Selasa, 25 Februari 2014
Sastra dan Kebenaran
Seseorang yang ingin memahami “kesiapaan” sastrawan tentu perlu membaca karyanya. Hal itu dapat dilakukan jika sastrawan itu mampu mengutarakan pikiran dan perasaannya dengan baik dan jelas. Kejelasan pengungkapan khazanah batin sastrawan ke dalam karyanya itu tentu bergantung pada kepiawaiannya memberdayakan bahasa sebagai sarananya.
Betapapun hebatnya gejolak imajinasi atau ide sastrawan, ia tidak akan mampu menuangkannya sama persis dengan apa yang dirasakannya. Hal itu boleh jadi disebabkan oleh minimnya penguasaan bahasa sastrawan dan/atau keterbatasan bahasa itu sendiri sebagai sarana. Selain itu, apa yang terungkap dalam karya itu bukanlah semata-mata hasil pengamatan sastrawan, tetapi juga apa yang dirasakan dan ditafsirkannya tentang objek yang dihadapinya. Karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa seni merupakan tiruan alam tidak sepuhnya benar.
Bila karya sastra bukan semata-mata tiruan alam, berarti sastra itu tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang memperjuangkan kebenaran. Akan tetapi, dalam kenyataannya, ukuran kebenaran sering diterapkan orang dalam menilai suatu karya sastra. Penikmat sastra acapkali menghubungkan peristiwa yang tertuang dalam karya sastra dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Tanggung jawab moral terhadap kebenaran itu memang harus ada dalam diri sastrawan melalui karyanya. Jika tidak, penikmat sastra akan menolaknya. Untuk itu, yang perlu dipersoalkan adalah pengertian kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Kebenaran dalam karya sastra bukan kebenaran yang sama persisi dengan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kebenaran pelambangan, kebenaran ideal, atau kebenaran yang sepatutnya terjadi. Patokan semacam itu akan dapat membantu pemahaman para penikmat sastra dalam cerita dongeng atau cerita kepahlawanan yang berbaur dengan kesaktian dan keajaiban, sebagaimana terlihat dalam epos “Ramayana” dan “Mahabarata".
Sastra dan Nilai Budaya
Sebagian besar sastra daerah di Indonesia identik dengan sastra lisan. Fungsinya, selain sebagai saluran untuk memelihara dan menurunkan buah pikiran suku atau puak yang mempunyai sastra itu, juga cerminan alam pikiran, pandangan hidup, serta ekspresi rasa keindahan masyarakat pemiliknya. Itulah yang biasa dinamakan dengan nilai budaya daerah.
Sistem nilai itu berupa konsepsi yang hidup dalam alam pikiran warga masyarakat sebagai sesuatu yang amat bernilai dalam kehidupan. Wujudnya dapat berupa adat-istiadat, tata hukum, atau norma-norma yang mengatur langkah dan tindak budaya adab. Dengan sikap rasa ikut memiliki, dalam diri seseorang akan timbul rasa menghargai dan memiliki sesuatu yang sebenarnya memang milik bersama, seperti adanya rasa memiliki terhadap ungkapan tut wuri handayani (Jawa) dan pepatah bulat air karena buluh, bulut kata karena mufakat. Dalam kehidupan keluarga sering kita dengan petuah, “Janganlah menjadi anak seperti Si Malin Kundang dan Si Mardan yang mendapat kutukan karena tidak hormat kepada orang tua”.
Mengenal Nilai Sastra
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah sastra atau karya sastra: prosa atau puisi. Dengan membaca karya sastra, kita akan memperoleh "sesuatu" yang dapat memperkaya wawasan dan/atau meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Karya sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai (value). Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, dan amanat atau di dalam larik, kuplet, rima, dan irama. Nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, antara lain, adalah sebagai berikut:
- nilai hedonik (hedonic value), yaitu nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca;
- nilai artistik (artistic value), yaitu nilai yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan;
- nilai kultur (cultural value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan;
- nilai etis, moral, agama (ethical, moral, religious value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, atau agama;
- nilai praktis (prctical value), yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.
Langganan:
Komentar (Atom)